Category Archive for "Chicken Soup for Soul"



Chicken Soup for Soul & Kenali Nabimu David Servetus on 11 Apr 2008

Bersabarlah Hingga Berjumpa Aku

Pada Hujjatul Wada’, hajji perpisahan, dimana Rasul saw keluar dari Madinatul Munawwarah pada tanggal 25 Dzulqa’dah tahun 11 Hijriah dalam pendapat lain tahun 10 Hijriah keluarlah beliau bersama para sahabat untuk melakukan Haji. Haji itu disebut Hujjatul Wada (Haji perpisahan) karena itulah haji yang pertama dan haji yang terakhir yang dilakukan oleh Rasulullah SAW.

Rasul saw keluar pada hari sabtu 25 Dzulqa’dah untuk menuju medan haram, dan beliau saw sampai di Makkah Al-Mukarramah dan melakukan fardhu Haji dan kemudian di medan Arafah beliau berkhutbah didekat Jabalur-Rahmah didengar oleh sedemikian banyak para sahabat. Diriwayatkan jumlah mereka 60 ribu dari para sahabat yang hadir pada hari itu dan Rasul berbicara tanpa pengeras suara, akan tetapi yang paling depan dan paling belakang sama jelasnya mendengar suara beliau saw.

Dari salah satu ucapan beliau saw dalam khutbahnya “Wahai hadirin, aku merasa barangkali aku tidak berjumpa lagi dengan kalian di haji yang akan datang. Bersaksilah bahwa aku sudah menyampaikan risalah ini”. Demikian kejadian Hujjatul Wada, dan Rasul saw kembali dari medan haji ini dan setelah beliau kembali tidak lama beliaupun berziarah ke makam Baqi’. Beberapa bulan kemudian adalah Rabiul Awwal, bulan wafatnya Rasulullah saw saw. Beliau berziarah ke Baqi menziarahi Ahlul Badr. Demikian dijelaskan di dalam Sirrah Ibn Hisyam. Beliau saw mendatangi kuburan Baqi, lantas mengucapkan salam kepada syuhada Badr, saudara-saudara beliau saw yang telah berjuang hingga wafat membela perjuangan Allah dan RasulNya di perang Badr Al Kubra.

Beliau saw mengucapkan salam di pemakaman Badr, lantas di saat itu ada salah seorang sahabat yang melihat Sang Nabi menangis. Setelah itu Rasul berpaling kepadanya seraya berkata “Wahai engkau, telah dipilihkan kepadaku dua pilihan untuk memilih hidup kekal di muka bumi sampai hari kiamat dan juga surga kelak atau aku dalam surga dan bertemu Allah. Dan aku memilih surga dan berjumpa dengan Allah.” Maka berkatalah sahabat itu, “Yaa Rasulullah pilihlah yang pertama agar kau kekal didunia ini.” Rasul berkata, “Aku memilih yang kedua…” Sekembalinya beliau dari ziarah, mulailah beliau ditimpa sakit yang membawa wafatnya.

Tanggal 1 Rabiul Awwal, mulailah sakit beliau saw. Pada tanggal 12 Rabiul Awwal, beliau pun wafat disaksikan oleh para sahabat.

Wafatlah Sang Nabi dan meninggalkan kemuliaan dan warisan agung pada kita, diteruskan oleh para khalifah-khalifah mulia dari mulai Sayyidina Abu Bakar Asshiddiq ra, Sayyidina Umar bin Khattab ra, Sayyidina Utsman bin Affan ra, Sayyidina Ali bin Abi Thalib kw dan para pembesar sahabat yang terus membawakan kemuliaan Alqur’an, kemuliaan sunnah dan kemuliaan syariatul Muthaharah (Syariah yg suci). Sampai masa-masa wafat merekapun tetap tersaksikan padanya cinta mereka kepada Allah dan Rasul. Ketika di masa wafatnya Sayyidina Umar ibn Khattab ra, diriwayatkan di dalam Shahih Bukhari, ketika beliau sudah ditaruh di atas dipan, maka berkatalah Ibn Abbas ra untuk menenangkan Sayyidina Umar yang sedang menghadapi sakarah, “Wahai Umar, kau telah menjadi sahabat Rasulullah! Kau telah berbakti kepada Rasul dengan sebaik-baiknya bakti dan beliau pun wafat dalam keadaan ridha kepadamu wahai Umar! Lantas kau pun bersahabat dengan Abu Bakar Ash-Shiddiq. Kau telah berbakti kepadanya sebagai khalifah sampai ia pun wafat dalam keadaan ridha kepadamu wahai Umar! Dan kini engkau di hadapan sakarah. Kami sahabat-sahabatmu telah ridha atas apa yang engkau perbuat, wahai Umar! Kami ridha kepadamu dan kau wafat dalam keadaan ridha dari kami”. Maka berkata Sayyidina Umar bin Khattab “Kalau seandainya keridhaan Rasul itu adalah anugerah Allah kepadaku, demikian pula keridhaan Abu Bakar Ash-Shiddiq itu adalah anugerah Allah kepadaku, tapi kalian?” kata Umar bin Khattab.

Maksudnya apa? Karena mereka masih hidup dan Umar bin Khattab tidak menyaksikan keridhoan mereka saat mereka wafat. “Yang kutakutkan, diantara kalian ada yang mempunyai hak atasku, seandainya aku memiliki gunung emas akan aku bagi-bagikan agar tidak ada satupun yang tidak ridha kepadaku sehingga aku tidak bertemu dengan azabnya Allah.” Demikian hebatnya wafatnya para Khulafaur Rasyidin.

Demikian pula wafatnya Sayyidina Utsman bin Affan ra, yang beliau ini dimusuhi oleh sebagian orang sehingga diblokir rumah beliau sehingga tidak bisa beliau keluar dari rumah. Tidak pula bisa mendapatkan kiriman makanan dan minuman. Maka berkata sahabat lainnya, “Wahai khalifah keluarkan pasukanmu untuk menyingkirkan orang-orang ini yang menghalangimu dari pada makanan dan minuman dan menghalangimu untuk masuk ke masjid!” Utsman bin Affan berkata, “Aku tidak akan menumpahkan darah Muslimin hanya karena satu manusia bernama Utsman bin Affan. Biarkan mereka dan apa yang mereka perbuat.”
Akhirnya Utsman bin Affan ra wafat sebagai syahid ketika Ia membaca Al Qur’an . Ia pun wafat dalam keadaan ditusuk.

Demikian pula wafatnya sayyidina Ali bin Abi Thalib ra. Demikianlah para pembela Rasul dan para pembela risalah. Sampailah kita di saat ini meni’mati hasil perjuangan mereka. Hasil dari pada perjuangan mereka adalah Al Quran yang sampai kepada kita dan hadits nabawi. Setiap huruf-hurufnya tercetak dengan darah dan pengorbanan mereka.

Rasul telah wafat, Khulafaur Rasyidin, para orang mulia telah wafat, para guru-guru kita banyak yang telah wafat. Tinggallah kita dalam waktu yang dekat akan pula wafat dan kembali. Membawa apa kita akan pergi?

Sang Nabi telah bersabda, diriwayatkan dalam Sahih Bukhari, “Akan kalian lihat setelah aku wafat, hal-hal yang tidak kalian sukai berupa fitnah, musibah, permasalahan. Bersabarlah kalian sampai kalian menjumpai aku ditelaga Haudh”. Demikian sabda Nabi Muhammad menenangkan para pencintanya. Menenangkan orang-orang yang selalu ingin bersama Allah dengan mencintai Nabi Muhammad. Beliau menenangkan hati mereka, “kalian akan temukan apa yang tidak kalian sukai setelah aku wafat…., bersabarlah sampai kalian berjumpa denganku di telaga Haudh”.

Kita bermunajat kepada Allah, “Rabbiy, pastikan semua wajah kami berjumpa beliau ditelaga Haudh… Yaa Allah.. Yaa Rahman yaa Rahim, kami mencintai Nabi Muhammad, kami mencintai Abu Bakar Ash-Shiddiq, kami mencintai Umar bin Khatab, kami mencintai Utsman bin Affan, kami mencintai Ali bin Abi Thalib, kami mencintai Sayyidatuna Fathimah Az-Zahra, kami mencintai Ahlul Badr, kami mencintai Ahlul Uhud, kami mencintai para wali Allah, namun kami tidak mampu mengejar dengan amal-amal kami sebagaimana dasyatnya amal mereka. Maka Rabbiy, pastikan kami bersama mereka karena cinta kami kepada mereka yaa Rabb! Telah tenang jiwa kami ketika melewati musibah dan kesulitan di dunia, kami mendengan kabar dari Sang Nabi: ‘bersabarlah kalian sampai kalian menjumpai aku ditelaga Haudh’ Pastikan kami semua yang mendapatkan janji sang Nabi. Rabbiy, kami bersabar sampai kami berjumpa dengan Nabi kami ditelaga Haudh. Kami bersabar atas kerinduan, bersabar atas cinta kami, yaa Rabb, telah Kau halangi mata kami dari memandang wajah Nabi kami, akan tetapi kami disabarkan oleh janji beliau: ‘bersabarlah kalian sampai kalian menjumpai aku ditelaga Haudh’ Yaa Rahman Yaa Rahim pandanglah segala buruknya amal kami, hinanya jiwa kami dari sanubari yang selalu ingkar dari semua yang Engkau ridhai, dan selalu ingin dengan hal-hal yang Engkau murkai. Kepada siapa kami mengadukan hati ini Rabbiy, kalau bukan kepadaMu yaa Rabb? Akan tetapi dalam gelapnya jiwa dan sanubari ini ada kecintaan kepada Sayyidina Muhammad saw, dan amal amal yang shalih. Maka jadikanlah titik terang ini menjadi matahari yang terang dalam jiwa kami, dan jangan wafatkan kami kecuali sebagai ahlus-sujud, sebagai ahlul khusyuk, sebagai ahlut taubah, sebagai ahlul qiyamul-lail. Yaa Rahman yaa Rahim, pastikan wafat kami kelak dalam puncak kemuliaan dan kesempurnaan ibadah, pastikan malam wafat kami atau siang wafat kami di dalam khusnul khatimah. Yaa Rahman yaa Rahim, pastikan kami bangkit di Yaumil qiyamah bersama orang-orang yang kami cintai, dan pastikan kami berjumpa dengan Nabi kami Muhammad saw.”

(Munzir al-Musawa)

Chicken Soup for Soul & Mari Raih Kesuksesan David Servetus on 10 Apr 2008

Kuil Cinta

Para Sahabat radhiyallahu’anhum dan para pengikutnya, dan para Shalihin dan Muqarrabien, mereka menginginkan kebersamaan selalu dengan mausia yang paling dekat kepada Allah, yaitu Sayyidina Muhammad saw. Mengapa? Karena mereka merasakan kelezatan saat mereka bersama Nabi Muhammad saw. Mereka merasakan puncak kekhusyuan saat mereka bersama Nabi Muhammad saw dan mereka tidak merasakan kelezatan hidup melebihi saat-saat mereka bersama Rasulullah saw.

Oleh sebab itu sering kita dengar riwayat semacam Sayyidina Tsauban ra yang merasa tidak lagi menginginkan keni’matan surga, tetapi yang diinginkannya adalah bersama Sang Nabi. Hal semacam ini disebabkan mereka merasakan kelezatan saat mereka bersama Nabi Muhammad saw. Kelezatan apa? Tentunya kelezatan berupa dekat kepada Allah, kelezatan khusyu, kelezatan tuma’ninah, ketika mereka memandang wajah Sang Nabi dan ketika mereka bersama Nabi Muhammad saw. Sebagaimana dijelaskan didalam Majmu’ Zawaid dan Musnad Imam Ahmad berkata Sayyidina Abu Hurairah “Yaa Rasulullah idza ra’aynaka raqqat quluubina! (Wahai Rasulullah, ketika kami melihat wajahmu, hati kami terangkat pada puncak kekhusyuan)”

Banyak diantara kita memandang benda, memandang gunung, memandang laut, maka terangkat (muncul) tuma’ninah dan khusyu dalam jiwa, semakin ingat kepada Allah. Apalagi bila memandang Nabi Muhammad saw yang menjadi lambang rahmat Ilahi.

Datanglah seseorang bertanya kepada Sang Nabi “Yaa Rasulullah, kapan datangnya hari kiamat?” Siapa orang ini? Al-Imam Ibn Hajar Asqalani didalam kitabnya Fathul Baari bisyarah Shahih Bukhari menjelaskan orang yang bertanya ini orang yang membuang air kecil di Masjid Nabawi. Orang yang boleh dikatakan sangat kurang ajar dan minim pemahamannya dan juga imannya, dia bertanya “kapan hari kiamat?” Rasul menjawab dengan pertanyaan “Bukan kapan yang mestinya kau ketahui, tetapi apa yang kau siapkan? Jangan bicarakan kapan hari kiamat karena yang diperlukan adalah persiapanmu, apa yang kau persiapkan?” Ia berkata “La syai..! Tidak ada apa-apa yang kusiapkan,” maksudnya ia beramal hal yang fardhu dan memperbanyak hal yang sunnah semampunya tapi tidak punya satu amal yang ia andalkan, “terkecuali Mahabbatullah wa Rasul.” Yang dia andalkan adalah cinta kepada Allah dan RasulNya Muhammad saw, ini yang menjadi andalannya yang lain tidak diandalkan walaupun dia beramal. “La syai” disini bukan berarti tidak beramal, beramal tetapi dia tidak mengandalkannya. Yang ia andalkan cintanya kepada Allah dan Rasul, maka Rasul menjawab “Engkau bersama dengan orang yang engkau cintai.” Diqabul cintanya kepada Allah dan Rasul, diijabah langsung oleh Rasul saw. Barangkali kalau amalan lainnya belum tentu diijabah oleh Allah, tetapi cinta kepada Sang Nabi langsung dijawab oleh Rasul “Anta ma’a man ahbabta!” Engkau bersama dengan orang yang kau cintai.

Cinta adalah kiblatnya jiwa. Jiwa itu mengarah kepada orang atau siapapun yang ia cintai. Walaupun ia menghadap kiblat, tetapi jiwanya akan mengarah kepada yang ia cintai. Walaupun ia bersujud kepada Allah jiwanya akan bersama dengan orang yang ia cintai. Beruntung orang-orang yang mencintai Allah dan Rasul-Nya.

Berkata Sayyidina Anas ibn Malik ra, “Kami tidak pernah gembira dalam suatu kegembiraan selain mendengar kabar: ‘Kau akan bersama dengan orang yang kau cintai.’ Kabar inilah yang sangat menggembirakan kami, janji dari Sang Nabi.” Dan Sayyidina Anas berkata, “Dan aku mencintai Rasulullah, aku mencintai Nabi Muhammad saw, Abu Bakar, dan Umar. Aku berharap akan bersama mereka walaupun aku tidak mampu beramal sedahsyat amal mereka.” Ucapan Anas Ibn Malik yang dicantumkan di dalam Shahih Bukhari ini diakui tentunya dan dibenarkan oleh seluruh Muhaddits dan ulama Ahlussunnah wal Jamaah bahwa kecintaan kepada seseorang akan mengantarkannya bersama yang dia cintai kelak di Yaumil Qiyamah. Hadits ini merujuk pada satu makna : Beruntung mereka yang mencintai Nabi Muhammad saw, beruntung dengan keberuntungan dunia dan akhirat bagi mereka yang mencintai Sayyidina Muhammad saw, yang mencintai Rasulullah saw. Sungguh mereka akan bersama Sang Nabi. Begitu pula yang mencintai para shalihin, mereka akan bersama dengan orang yang mereka cintai.

Lihatlah arah jiwamu! Palingkan kepada makhluk yang dicintai Allah! Kepada shalihin, kepada syuhada, terutama Nabi mulia yang paling dicintai Allah, Nabiyuna Muhammad saw.

(majelisrasulullah.org)



Free web hosting Web hosting