Category Archive for "Menanggapi Kristen"



Menanggapi Kristen David Servetus on 20 Apr 2008

Tuhankah Yesus?

Banyak sosok di dunia ini yang dianggap sebagai ilah, tuhan yang disembah. Benarkah mereka semua adalah ilah? Atau hanya ada satu Ilah yang benar? Kali ini kita kaji tentang Yesus. Apakah Yesus itu adalah ilah yang benar? Benarkah bahwa Yesus itu adalah ilah yang esa?

Yesus akan tetap dapat mereka akui sebagai Ilah, kecuali ada hal-hal yang membatalkannya. Misalnya, dalam suatu kesempatan, Yesus menolak dirinya disebut sebagai ilah yang esa.

Mengapa kau sebut aku sebagai yang baik? Tidak ada yang baik kecuali satu, yaitu Allah. (Lukas 18:19)

Dalam ayat itu, Yesus menegaskan bahwa tidak ada yang baik kecuali Allah. Maka jangan sebut Yesus sebagai yang baik, karena Yesus bukanlah Allah. Ini sungguh jelas dan mudah dipahami.

Ada indikasi bahwa orang-orang di masa Yesus membedakan Yesus dan Allah. Yesus dan Allah bukanlah satu entitas, bukan satu pribadi, bukan satu substansi, atau apa pun namanya.

Yesus bertambah besar hikmahnya dan bertambah dewasa, serta makin disukai Allah dan manusia. (Lukas 2:52)

Manusia itu banyak. Manusia yang satu bisa menyukai manusia lainnya. Tetapi Allah, mungkinkah Dia menyukai Allah yang lainnya? Agak sulit untuk mengatakan bahwa dalam alam pemikirannya, Lukas menyangka bahwa Yesus adalah Allah. Adalah konyol jika Anda berkata ‘tidak ada yang mustahil bagi Allah’ dalam hal ini. Lukas jelas menganggap bahwa Yesus bukanlah Allah. Mungkin hanya Paulus yang beranggapan bahwa Yesus adalah Tuhan seperti dalam Injil gnostiknya.

Aku datang bukan atas kehendakku sendiri, melainkan Dialah yang mengutusku. (Yohanes 8:42)

Dalam ayat tersebut dijelaskan bahwa Yesus datang bukan atas kehendaknya sendiri, tetapi atas kehendak Allah. Jika Yesus adalah Allah, dan Yesus datang atas kehendak Allah, harusnya dia mengaku bahwa dia datang atas kehendaknya sendiri, karena dirinya adalah Allah. Tetapi karena Yesus bukanlah Allah, dan Yohanes tahu itu, maka Yesus berkata, “Aku datang bukan atas kehendakku sendiri. Tetapi Allah itulah yang berkehendak mengutusku.” Yesus adalah utusan atau rasul Allah, bukan Allah itu sendiri.

Dalam ayat lain, Yesus mengaku sama dengan Yohanes pembaptis. Sebagaimana Yohanes datang dari Allah sebagai utusan Allah, begitu juga Yesus datang dari Allah sebagai utusan Allah. Sebagai utusan Allah, Yesus mempunyai kuasa/wewenang yang sama dengan Yohanes, dan tidak sama dengan Allah. Allah lebih besar dan lebih berkuasa daripada Yesus. Allah bisa menyuruh Yesus, karena Yesus memang pesuruh Allah. Tetapi Yesus hanya boleh meminta kepada Allah, dan bukan menyuruh Allah.

Maka seorang malaikat dari langit menampakkan diri kepadanya untuk memberi kekuatan kepadanya. (Lukas 22:43)

Malaikat menguatkan Yesus. Tuhankah dia yang memerlukan makhluqnya? Begitu bodohkah Lukas hingga menganggap Yesus sebagai Allah? Hanya orang pagan yang menganggap Yesus sebagai Tuhan.

Semua Nabi Allah paham, bahwa Allah tidak bertuhan. Karena Allah itulah Tuhan. Allah tidak menyembah sesuatu apa pun. Allah tidak bersujud kepada sesuatu. Tetapi Yesus mempunyai Allah, yang kepada Allah dia bersujud dan berdoa.

Aku akan pergi kepada Bapaku dan Bapamu, kepada Allahku dan Allahmu. (Yohanes 20: 17)

Dengarlah, hai orang Israel, Tuhan Allah kita, Tuhan itu esa. (Matius 12:29)

Yesus berkata, “Ilahku dan Ilahmu,” atau “Ilah kita.” Ya, Yesus menyembah sesuatu. Sedangkan Tuhan tidak menyembah sesuatu. Maka Yesus bukan Tuhan.

Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan aku? (Matius 27:46)

Dia memanggil Allahnya. Dia memanggil yang disembahnya. Dia memanggil Allah Israel, Allah nenek moyangnya. Maka Yesus bukanlah Tuhan.

Pada waktu itu, pergilah Yesus ke bukit untuk berdoa. Semalam penuh ia berdoa kepada Allah. (Lukas 6:12)

Tuhankah dia yang berdoa kepada Allahnya? Yesus adalah hamba Allah, bukan Tuhan.

Sepanjang hidupnya di dunia, ia telah mempersembahkan doa dan permohonan dengan ratap tangis dan keluhan kepada Dia yang esa, yang sanggup menyelamatkannya dari maut, dan karena kesalehannya, ia telah didengarkan. (Ibrani 6:7)

Ayat yang menarik. Sepanjang hidupnya, Yesus menyembah Allah setulus hati, tanpa menyekutukan Allah. Yesus tidak pernah memohon kepada ilah-ilah palsu. Dia hanya memohon dan mengadukan perihalnya kepada Allah saja. Yesus, hamba Allah yang shalih.
Yesus yaqin bahwa hanya Allah yang dapat menyelamatkannya. Dan Allah menjawab doa Yesus. Allah menyelamatkannya. Sungguh berbeda dengan Injil gnostik Paulus. Yesus diselamatkan Allah dari maut. Yesus belum mati. Maka sia-sialah segala perbuatan orang-orang Kristen. Sia-sialah segala doktrin mereka. Karena nyatanya, Allah menyelamatkan Yesus. Yesus tidak mati di tiang salib. Gugurlah segala pengakuan Paulus dan para pengikutnya yang mengatakan bahwa Yesus mati di tiang salib untuk menebus dosa mereka.

Pada ketika itu juga Yesus mengetahui, bahwa ada tenaga yang keluar dari diri-Nya, lalu Ia berpaling di tengah orang banyak dan bertanya: “Siapa yang menjamah jubah-Ku?” Murid-murid-Nya menjawab: “Engkau melihat bagaimana orang-orang ini berdesak-desakan dekat-Mu, dan Engkau bertanya: Siapa yang menjamah Aku?” Lalu Ia memandang sekeliling-Nya untuk melihat siapa yang telah melakukan hal itu. (Markus 5:30-32)

Walau Yesus telah memperlihatkan mu’jizat, tetapi segala mu’jizat itu bukan dari dirinya sendiri, melainkan anugerah dari Allah. Dan tetap saja, Yesus bukanlah Yang Mahatahu tanpa diberi-tahu. Yesus bukanlah Tuhan.

Akhirnya, Yesus yang mengetahui dirinya adalah utusan Allah pun mengakui bahwa tidak ada yang pantas disembah kecuali Allah yang esa, dan mengakui bahwa dirinya adalah hamba dan utusan Allah. Yesus bukanlah Tuhan.

Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus. (Yohanes 17:3)

Menanggapi Kristen David Servetus on 16 Apr 2008

Perjanjian Allah dengan Ibrahim

Tuhan telah berjanji kepada Ibrahim sebelum Ibrahim mempunyai keturunan. Dalam kitab Kejadian 12:2-3 dikatakan:
Aku akan membuat engkau menjadi bangsa yang besar, dan memberkati engkau serta membuat namamu masyhur; dan engkau akan menjadi berkat. Aku akan memberkati orang-orang yang memberkati engkau, dan mengutuk orang-orang yang mengutuk engkau, dan olehmu semua kaum di muka bumi akan mendapat berkat.”

Dari pernikahannya dengan Sarah, Nabi Ibrahim belum juga dikaruniai anak hingga lanjut usianya. Kemudian Sarah memberikan budaknya kepada Ibrahim untuk dijadikan istri, namanya Hajar. Lalu Hajar pun mengandung dan melahirkan anak. Anak itu diberi nama Ismail, sesuai yang dikatakan malaikat kepadanya, yang berarti Allah Mendengar. Allah Mendengar doa Ibrahim agar dikaruniai keturunan yang akan meneruskan da’wahnya. Dan Allah berjanji akan memberinya keturunan yang akan menjadi bangsa yang besar. Janji Allah itu tergenapi dengan lahirnya Ismail.

Maka jelaslah, bahwa Ismail adalah anak yang dinubuatkan dan akan menurunkan suatu bangsa yang besar. Dalam kitab Kejadian 21:20 dikatakan bahwa Tuhan menyertai anak itu. Ismail adalah anak sulung Ibrahim yang sangat penting. Ini sesuai dengan Alkitab. Dalam tradisi Ibrani, anak sulung mempunyai porsi dua kali lipat dalam hal kehormatan dan juga warisan (Kel. 21:15-17), dan hak tersebut tidak bisa diubah oleh status Ibunya. Anak sulung merupakan simbol kekuatan ayahnya.

Selama 14 tahun, Ismail menjadi anak tunggal Ibrahim. Kemudian, isteri pertama Ibrahim, Sarah, melahirkan anak, Ishak (Kej. 21:1-5).

Nasrani dan Yahudi beranggapan bahwa janji Tuhan hanya untuk Ishak dengan didasarkan pada beberapa ayat seperti Kejadian 17:21 dan 21:12. Muncullah pemikiran menarik. Mungkinkah penulis Kejadian memasukkan pernyataan seperti itu untuk keuntungan klannya sendiri sebagai bani Israil? Ketika dua ayat tadi diuji, yaitu dibandingkan dengan ayat-ayat lain dari kitab yang sama, menjadi jelaslah bahwa Ismail juga termasuk dalam perjanjian itu. Perjanjian itu dibuat sebelum Ibrahim mempunyai satu anak pun. Dan perjanjian itu disinggung kembali setelah Ismail lahir dalam Kejadian 17:4. Lebih dari itu, Ismail juga diberkati dengan istimewa dan tentunya diikutkan dalam janji Tuhan. Misalnya dalam Kejadian 21:13 dikatakan:
“Tetapi keturunan dari hambamu itu juga akan Kubuat menjadi suatu bangsa, karena ia pun anakmu.”

Janji di atas dikonfirmasi ulang pada beberapa ayat berikutnya:

“Bangunlah, angkatlah anak itu, dan bimbinglah dia, sebab Aku akan membuat dia menjadi bangsa yang besar.” (Kejadian 21:18)
Allah menyertai anak itu, sehingga ia bertambah besar; ia menetap di padang gurun dan menjadi seorang pemanah.” (Kejadian 21:20)

Ketika Tuhan bicara tentang kebesaran, hal itu tidak selalu berhubungan dengan jumlah. Kehebatan di sini bisa ditemukan dalam keimanan, warisan ruhaniyah dan kepemimpinan religius.

Hal-hal yang juga mengherankan adalah mengapa menurut nasrani dan yahudi hanya satu anak saja yang dimaksud dalam perjanjian? Mengapa tidak keduanya? Keadilan macam apa yang menghapus hak anak sulung hanya untuk menyenangkan keegoisan Sarah dan kecemburuannya? Apakah Sarah juga mendiktekan hasratnya kepada Tuhan?

Berkatalah Sara kepada Abraham: “Usirlah hamba perempuan itu beserta anaknya, sebab anak hamba ini tidak akan menjadi ahli waris bersama-sama dengan anakku Ishak.” (Kejadian 21:10)

Hal itu dinyatakan setelah Ishak disapih. Biasanya orang Ibrani disapih pada umur 2-3 tahun. Maka keesokan paginya, Abraham memberi kepada Hajar makanan dan sebuah kantong kulit berisi air untuk bekal di jalan. Ia meletakkan anak itu pada punggung Hajar, dan menyuruh wanita itu pergi. Lalu berangkatlah Hajar dan mengembara di padang gurun Bersyeba. Ketika air bekalnya habis, Hajar meletakkan anaknya di bawah semak, lalu duduk kira-kira seratus meter dari tempat itu. Katanya dalam hati, “Saya tidak tahan melihat anak saya mati.” Lalu menangislah anak itu. Allah mendengar suara Ismail, dan dari langit malaikat Allah berbicara kepada Hagar, katanya, “Apa yang engkau susahkan, Hagar? Janganlah takut. Allah telah mendengar suara anakmu. Pergilah kepada anakmu, angkat dan tenangkanlah dia. Aku akan menjadikan keturunannya suatu bangsa yang besar. Lalu Allah membuat Hajar melihat dengan jelas, sehingga tampak olehnya sebuah sumur. Maka pergilah ia lalu mengisi kantong kulit itu dengan air, kemudian diberinya anaknya minum. Allah menyertai Ismael. Anak itu bertambah besar; ia menetap di padang gurun Paran (Arab), dan menjadi pemanah yang mahir dalam berburu. (Lihat Kejadian 21:14-20 BIS) Ismail mempunyai 12 anak, salah satu anaknya bernama Kedar.

Ismael mempunyai dua belas anak yang disebutkan di sini menurut urutan lahirnya: Nebayot, Kedar, Adbeel, Mibsam, Misyma, Duma, Masa, Hadad, Tema, Yetur, Nafis dan Kedma. Anak-anak itu menjadi bapak leluhur dua belas suku bangsa, dan desa dan perkemahan mereka disebut menurut nama-nama mereka. (Kejadian 25:13-16)

Dalam ayat-ayat di atas dijelaskan sekali lagi bahwa Allah mendengar Ismail. Sesuai namanya, Allah mendengar, Ismail. Jelaslah bahwa penamaan dari malaikat itu bukanlah suatu hal yang sembarangan, tetapi bagian dari rencana Tuhan. Dan dikatakan bahwa Allah menyertainya.

Kesamaan dengan versi Islam:
1. Ibrahim menerima janji dari Allah (QS. Al-Baqarah: 124)
2. Hajar dan Ismail pindah dari Palestina dan menetap di Paran (Arab).
3. Hajar berlari-lari mencari air untuk Ismail.
4. Tanpa diduga-duga, Hajar menemukan sumber air untuk dirinya dan Ismail.

Perbedaannya, dalam versi Islam dikatakan:

1. Hajar dan Ismail dipindahkan ke Paran atas perintah spesifik dari Allah kepada Ibrahim untuk suatu rencana Ilahiyah, bukan karena Sarah atau Ibrahim merasa sebal terhadap mereka. Bila waktunya tiba, kenabian akan dipindahkan dari bani Israil kepada bani Ismail. Hal ini sesuai dengan Matius 21:43. Tidak hanya itu, kelak, Ismail itulah yang akan membantu Nabi Ibrahim dalam membangun Ka’bah. Jelaslah bahwa Ismail ikut serta dalam perjanjian itu.

2. Hajar dan Ismail ditinggalkan di Arabia, tepatnya Makkah (Bakkah) dan bukan Bersyeba.

3. Peristiwa itu terjadi sebelum Ishak lahir dan bukan setelahnya, yaitu ketika Ismail masih bayi.

Mari Kita Analisa

Apakah Ismail dan Hajar dikirim ke padang tandus sebelum ataukah setelah Ishak lahir? Jika kita menerima versi Alkitab, kita akan menemukan sejumlah inkonsistensi dan kontradiksi. Dalam Kejadian 21:14-19, jelas digambarkan bahwa Ismail masih bayi, artinya Ishak belum dilahirkan.

Jika kita melihat Kejadian 16:16, Ibrahim berumur 86 tahun, ketika Hajar melahirkan Ismail baginya. Dan menurut Kejadian 21:5, Ibrahim berumur 100 tahun ketika Ishak lahir. Artinya, Ismail telah berumur 14 tahun ketika Ishak lahir. Menurut Kejadian 21:8-10, peristiwa itu terjadi setelah Ishak disapih. Berarti Ismail telah berumur 16-17 tahun saat itu.

Namun dalam Kejadian 21:14-19, Ismail pastilah anak bayi yang kecil dan bukan remaja berumur 17 tahun. Perhatikan baik-baik ayatnya:

14 Keesokan harinya pagi-pagi, Abraham memberi kepada Hagar makanan dan sebuah kantong kulit berisi air untuk bekal di jalan. Ia meletakkan anak itu pada punggung Hagar, dan menyuruh wanita itu pergi. Lalu berangkatlah Hagar dan mengembara di padang gurun Bersyeba. 15 Ketika air bekalnya habis, Hagar meletakkan anaknya di bawah semak, 16 lalu duduk kira-kira seratus meter dari tempat itu. Katanya dalam hati, “Saya tidak tahan melihat anak saya mati.” Lalu menangislah anak itu.17 Allah mendengar suara Ismael, dan dari langit malaikat Allah berbicara kepada Hagar, katanya, “Apa yang engkau susahkan, Hagar? Janganlah takut. Allah telah mendengar suara anakmu. 18 Pergilah kepada anakmu, angkat dan tenangkanlah dia. Aku akan menjadikan keturunannya suatu bangsa yang besar.” 19 Lalu Allah membuat Hagar melihat dengan jelas, sehingga tampak olehnya sebuah sumur. Maka pergilah ia lalu mengisi kantong kulit itu dengan air, kemudian diberinya anaknya minum. 20 Allah menyertai Ismael. Anak itu bertambah besar; ia menetap di padang gurun Paran, dan menjadi pemburu yang mahir. (Kej. 21 Alkitab Bahasa Indonesia Sehari-hari)

Ismail pastilah masih bayi saat itu. Tidak mungkin Ibrahim meletakkan Ismail yang remaja ke punggung Hajar. Kemudian dikatakan bahwa Hajar duduk kira-kira seratus meter dari tempat itu. Katanya dalam hati, “Saya tidak tahan melihat anak saya mati.” Lalu menangislah anak itu. Ismail pastilah bayi yang lemah, dan bukannya seorang remaja.
Dikatakan kepada Hajar: “Pergilah kepada anakmu, angkat dan tenangkanlah dia. Aku akan menjadikan keturunannya suatu bangsa yang besar.” Apakah Hajar adalah seorang wanita yang begitu kuat untuk mengangkat Ismail remaja yang sedang menangis? Pastilah Ismail masih bayi saat itu, dan bukan remaja berumur 14-17 tahun.

Dikatakan juga bahwa Hajar mengisi kantong kulit itu dengan air, kemudian diberinya anaknya minum. Remaja yang berbakti tentu akan membawakan air kepada ibunya, dan bukan sebaliknya. Ismail pastilah masih bayi pada saat itu.

Dikatakan juga bahwa Ibrahim meletakkan perbekalan di bahu Hajar. Mengapa Ismail, remaja yang kuat, tidak menawarkan diri untuk membawakan bekal itu? Karena Ismail memang masih bayi saat itu, bukan remaja 17 tahun yang kuat.

Analisa di atas memperlihatkan bahwa Alkitab juga memuat beberapa hal yang benar, namun juga mengandung penambahan dari manusia, penghapusan, pengeditan, dan pengubahan.

Versi Islam dalam hal ini sangat konsisten dari A sampai Z. Ismail adalah seorang bayi, dan Ishak belum dilahirkan ketika peristiwa itu terjadi. Hal ini menjelaskan bahwa kepergian Hajar dan Ismail ke Arab bukanlah atas dikte, egoisme, rasialisme, ataupun kecemburuan Sarah. tetapi atas perintah Tuhan untuk sebuah rencana Ilahiyah.

Tuhan tidak pernah menghapus Ismail dari perjanjian itu. Tuhan tidak membuang Ismail dari garis keturunan Ibrahim. Cerita Sarah yang mengusir Hajar hanyalah cerita fiktif yang ditambahkan orang-orang Yahudi karena kecemburuan dan kesombongan mereka yang merasa sebagai ras terbaik. Akhirnya, batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan telah menjadi batu penjuru: hal itu terjadi dari pihak Tuhan, suatu perbuatan ajaib di mata kita. Tetapi tidak ada yang sulit bagi Tuhan. Kerajaan Allah telah diambil dari bani Israil dan diberikan kepada bani Ismail yang menghasilkan buah Kerajaan itu.

Dan ingatlah, ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu Ibrahim menunaikannya. Allah berfirman: “Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu imam (pemimpin) bagi seluruh manusia”. [QS. Al-Baqarah: 124]

Aku akan memberikan kepadamu keturunan yang banyak dan mereka akan menjadi bangsa yang besar. Aku akan memberkati engkau dan membuat namamu masyhur, sehingga engkau akan menjadi berkat. Aku akan memberkati orang-orang yang memberkati engkau dan mengutuk orang-orang yang mengutuk engkau. Dan karena engkau, semua bangsa akan memohon kepada-Ku supaya memberkati mereka sebagaimana telah Kuberkati engkau. [Kejadian 12:2-3 BIS]

Ya Allah, berkatilah tuan kami, Muhammad, sebagaimana Engkau telah memberkati tuan kami, Ibrahim.

Menanggapi Kristen David Servetus on 15 Apr 2008

Paulus dan Injil Gnostik

Hai orang-orang Galatia yang bodoh, siapakah yang telah mempesona kamu? Bukankah Yesus Kristus yang disalibkan itu telah dilukiskan dengan terang di depanmu? (Galatia 3:1)

Apakah Paulus menyaksikan Yesus disalib? Apakah Paulus pernah melihat wajah Yesus sebelum ia mengaku telah dipilih Yesus dalam penampakan? Paulus tidak punya pengetahuan yang dapat dipertanggung-jawabkan dalam hal ini. Pengetahuan Paulus atas penyaliban Yesus adalah pengetahuan yang meragukan, karena dia sebenarnya tidak menyaksikan penyaliban Yesus. Dia tidak benar-benar tahu apakah Yesus itu benar disalib atau tidak. Dia hanya mendengar kabar saja bahwa Yesus disalib. Tetapi dia tidak menghiraukan kabar lainnya bahwa Yesus tidak disalib. Siapakah pembawa kabar (injil) yang lain itu? Siapakah yang dituduh telah menipu orang Galatia dengan mengajarkan bahwa Yesus tidak disalib? Para murid Yesus. Para murid Yesus telah mengajarkan ajaran Yesus, yang tentunya berbeda dengan pekabaran yang dibawa Paulus si Farisi dari Tarsus.

Pengetahuan yang bagaimana yang diajarkan Paulus? Pengetahuan yang diajarkan Paulus merupakan pengetahuan gnostik. Di dalam peradaban Yunani, Mesir, dan Romawi Kuno memang terdapat aliran misteri (école de mysterés) yang bertemu pada konteks suatu ilmu tertentu, gnosis, atau pengetahuan rahasia. Anggota dari aliran misteri ini diterima hanya setelah suatu periode kajian yang panjang dan berbagai upacara inisiasi. Di antara aneka aliran ini, yang dianggap paling awal adalah aliran “Osiris” yang didasarkan pada peristiwa seperti kelahiran, masa muda, pertarungan melawan kegelapan, kematian dan kebangkitan dari dewa ini. Tema-tema ini didramatisasi secara ritual di dalam berbagai upacara yang diselenggarakan oleh pendeta. Dengan cara ini berbagai ritual dan simbol yang ditampilkan jauh lebih efektif karena partisipasi aktual. Gnostikisme semacam ini diteruskan oleh Kristen dengan menganggap Yesus sebagai Putera Tuhan yang lahir, bertarung melawan kegelapan dan maut, dan mengalami kebangkitan, layaknya Horus putera Osiris, sang Kristus bangsa Mesir Kuno.

Aku telah menjadi pelayan jemaat itu sesuai dengan tugas yang dipercayakan Allah kepadaku untuk meneruskan firman-Nya dengan sepenuhnya kepada kamu, yaitu rahasia yang tersembunyi dari abad ke abad dan dari turunan ke turunan, tetapi yang sekarang dinyatakan kepada orang-orang kudus-Nya. [Kolose 1:25-26]

Berdoa jugalah untuk kami, supaya Allah membuka pintu untuk pemberitaan kami, sehingga kami dapat berbicara tentang rahasia Kristus, yang karenanya aku dipenjarakan. [Kolose 4:3]

Bagaimanakah bentuk ajaran Paulus itu? Dalam suratnya kepada orang Korintus, Paulus berkata: “Sebab yang sangat penting telah kusampaikan kepadamu, yaitu apa yang telah kuterima sendiri, ialah bahwa Kristus telah mati karena dosa-dosa kita, sesuai dengan Kitab Suci, bahwa Ia telah dikuburkan, dan bahwa Ia telah dibangkitkan, pada hari yang ketiga, sesuai dengan Kitab Suci;” [1Korintus 15:3-4]

Kitab Suci di sini jelas bukan Kitab Suci yang telah umum diketahui orang Yahudi. Kitab Suci di sini adalah Kitab Suci yang menurut Paulus diberikan kepadanya, suatu kitab rahasia yang tersembunyi. Bukan kitab karangan Yesaya, bukan karangan para Nabi. Injil Paulus merupakan Injil yang belum diketahui manusia pada umumnya. Bukan Injil yang manusia lain ajarkan kepadanya karena manusia lain belum ada yang mengetahui Injil tersebut. Injil Paulus bukanlah Injil yang telah diajarkan kepada para murid Yesus.

Sebab aku menegaskan kepadamu, saudara-saudaraku, bahwa Injil yang kuberitakan itu bukanlah injil manusia. Karena aku bukan menerimanya dari manusia, dan bukan manusia yang mengajarkannya kepadaku, tetapi aku menerimanya oleh penyataan Yesus Kristus.(Galatia 1:11-12)

Paulus berkata, “Yaitu bagaimana rahasianya dinyatakan kepadaku dengan wahyu, seperti yang telah kutulis di atas dengan singkat. Apabila kamu membacanya, kamu dapat mengetahui dari padanya pengertianku akan rahasia Kristus, yang pada zaman angkatan-angkatan dahulu tidak diberitakan kepada anak-anak manusia, tetapi yang sekarang dinyatakan di dalam Roh kepada rasul-rasul dan nabi-nabi-Nya yang kudus, yaitu bahwa orang-orang bukan Yahudi, karena Berita Injil, turut menjadi ahli-ahli waris dan anggota-anggota tubuh dan peserta dalam janji yang diberikan dalam Kristus Yesus. Dari Injil itu aku telah menjadi pelayannya menurut pemberian kasih karunia Allah, yang dianugerahkan kepadaku sesuai dengan pengerjaan kuasa-Nya.” (Efesus 3:3-7)

Jelaslah bahwa Paulus memegang suatu Injil yang berisi rahasia Kristus (mystery of Christ). Dalam Injil yang dipegang Paulus ada terdapat perkataan, “bahwa Kristus telah mati karena dosa-dosa kita, dikuburkan, dan dibangkitkan, pada hari yang ketiga”. Maka pahamlah kita bahwa Injil yang dipegang Paulus adalah Injil yang berbeda dengan Injil yang diturunkan kepada Yesus. Injil Paulus yang berisi pengajaran gnostik itu mungkin Kitab Suci dari Ordo Salib Mawar Mesir Kuno (AMORC). Suatu Injil gnostik yang menjelaskan tentang Horus Kristus yang lahir, tumbuh dewasa, mati, dan bangkit pada hari yang ketiga. Lalu Paulus menafsirkan bahwa Yesus adalah Kristus yang dimaksudkan oleh Kitab Suci atau Injil yang ia pegang itu.

Remember that Jesus Christ of the seed of David was raised from the dead according to my gospel (Ingatlah ini: Yesus Kristus, yang telah bangkit dari antara orang mati, yang telah dilahirkan sebagai keturunan Daud, itulah yang kuberitakan dalam Injilku.) [II Timotius 2:8]

Paulus berkata, “Injilku”. Jelaslah bahwa Injil Paulus adalah Injil yang berbeda dengan Injil yang dipegang para murid Yesus (Hawariyun). Injil Paulus penuh dengan ajaran gnostik Mesir Kuno.

Menanggapi Kristen & Tauhid Dalam Alkitab David Servetus on 15 Apr 2008

Paulus vs Murid Yesus

Paham Trinitas hanyalah salah satu paham yang berkembang di masyarakat pada abad-abad awal Masehi. Paham lain yang juga berkembang adalah paham Unitas (Tauhid) yang pada abad keempat dibela oleh Arius dan para pendukungnya. Lalu mengapa Kaisar Konstantin memilih Trinitas? Apakah karena Trinitas itu adalah kebenaran sejati? Melihat latar belakang Kaisar yang pagan, kami tidak heran jika kaisar lebih memilih Trinitas daripada Unitas.

Apakah Unitas baru lahir pada abad keempat? Pada abad keempat, diketahui adanya pertentangan antara pendukung Unitas dan para pendukung Gereja Pauline. Di jalan-jalan, orang ramai mempermasalahkan apakah anak sama dengan Bapa? Jika seseorang bertanya kepada pedagang di pasar berapakah harga barang ini? Dikatakan oleh pedagang, “Bukankah Bapa lebih besar dari anak?” Hal ini adalah kiasan atas betapa meluasnya perdebatan antara pendukung Trinitas dan Unitas saat itu.

Pertentangan ini sudah ada sejak awal berdirinya Gereja Pauline/Kristen. Bukankah Anda mengetahui adanya pertentangan antara Paulus dan 12 murid Yesus? Bahkan Paulus menentang pewaris da’wah Yesus, yaitu Petrus (Matius 16:18; Galatia 2:11). Bahkan Paulus menyebut Barnabas sebagai orang yg mengikuti kemunafikan Yahudi (Galatia 2:13). Paulus melakukan pembunuhan karakter terhadap para penentangnya dengan penilaian subyektif terhadap perbuatan para penentangnya. Mirip sekali dengan tukang gosip yang suka membicarakan orang lain berdasarkan penilaiannya semata atas perbuatan orang yang ia gunjingkan.

Pada saat itu, juga telah berkembang ajaran bahwa Yesus tidak menghapus hukum Taurat, bahkan menggenapkannya. Siapa yang membawa paham dan ajaran seperti ini yang jelas-jelas bertentangan dengan paham yang dibawa Paulus? Tentu saja para murid Yesus yang setia menemani dan mendukung da’wah Yesus. Mereka adalah para murid Yesus yang ditentang dan difitnah oleh Paulus sebagai munafik karena mereka mengajarkan bahwa Yesus tidak disalib, bahwa Yesus tidak menghapus Taurat.

Apakah hanya ada satu pengajaran di zaman itu? Apakah hanya ada satu doktrin di zaman itu? Nyatanya tidak. Saat itu juga telah berkembang paham bahwa Yesus tidak disalib. Telah berkembang pengajaran Yesus yang asli. Tetapi Paulus ingin merebut jemaat 12 murid Yesus dengan berkata: “Hai orang-orang Galatia yang bodoh, siapakah yang telah mempesona kamu? Bukankah Yesus Kristus yang disalibkan itu telah dilukiskan dengan terang di depanmu?” (Galatia 3:1)

Apakah Paulus menyaksikan Yesus disalib? Apakah Paulus pernah melihat wajah Yesus sebelum ia mengaku telah dipilih Yesus dalam penampakan? Paulus tidak punya pengetahuan yang dapat dipertanggung-jawabkan dalam hal ini. Pengetahuan Paulus atas penyaliban Yesus adalah pengetahuan yang meragukan, karena dia sebenarnya tidak menyaksikan penyaliban Yesus. Dia tidak benar-benar tahu apakah Yesus itu benar disalib atau tidak. Dia hanya mendengar kabar saja bahwa Yesus disalib. Tetapi dia tidak menghiraukan kabar lainnya bahwa Yesus tidak disalib. Siapakah pembawa kabar (injil) yang lain itu? Siapakah yang dituduh telah menipu orang Galatia dengan mengajarkan bahwa Yesus tidak disalib? Para murid Yesus. Para murid Yesus telah mengajarkan ajaran Yesus, yang tentunya berbeda dengan pekabaran yang dibawa Paulus si Farisi dari Tarsus.

Pekabaran siapa yang Anda pilih, wahai ahli kitab? Pekabaran para murid Yesus, ataukah pekabaran Paulus yang kemudian didukung oleh Kaisar pagan?



Free web hosting Web hosting